Rizal Ramli: Demokrasi Kriminal Hanya Bekerja Untuk Bandar

- 24 Oktober 2020, 11:20 WIB
Ekonom Senior, Rizal Ramli*/instagram/rizalramli.official /

BERITABULUKUMBA.COM - Rizal Ramli dengan tegas menyatakan demokrasi dianggap kriminal karena demokrasi sudah tidak bekerja untuk rakyat dan bangsa Indonesia tapi bekerja untuk bandar-bandar yang membiayai calon. Ekonom senior itu mengungkapkan bahwa ada pergeseran makna demokrasi dalam setiap pergantian pemimpin di Indonesia.

"Demokrasi di Indonesia saat ini sudah melenceng jauh dari makna yang sesungguhnya. Setelah kejatuhan Soeharto hanya jadi demokrasi prosedural. Lama-lama jadi demokrasi kriminal,” ujarnya, dikutip dari kanal YouTube Karni Ilyas bertajuk Karni Ilyas Club – Rizal Ramli ‘Pak Jokowi Lebih Dengar Saya’, Sabtu 24 Oktober 2020.

Baca Juga: Sejumlah Wilayah di Indonesia Terancam La Nina

Menurutnya, sejatinya yang memilih para kandidat kepala daerah adalah para bandar yang dimaksudnya. Bandar-bandar itulah yang kemudian membiayai seluruh keperluan untuk memenangkan kandidat yang dibiayainya. Termasuk biaya untuk survei sampai seluruh kebutuhan pemenangan lainnya.

“Begitu yang bersangkutan terpilih, dia ngabdi sama bandarnya, bukan sama kepentingan nasional maupun rakyat biasa,” tuturnya.

Baca Juga: PA 212 ke Jokowi: Lebih Baik Mundur Secara Terhormat

Karena kondisi tersebutlah, ia lebih memilih mengajukan judicial review (JR) ke Mahkamah Konstitusi (MK) terkait ambang batas pencalonan presiden atau presidential threshold.

“Supaya threshold yang jadi sekrup pemerasan dari sistem demokrasi kriminal ini dihapuskan,” katanya.

Ia pun merujuk perpolitikan dunia, yang mana sudah ada sekitar 48 negara yang tak lagi menganut sistem ambang batas.

Baca Juga: Gatot Menegaskan Tidak Takut Perlakuan Polisi Terhadap Aktivis KAMI

Halaman:

Editor: Alfian Nawawi

Sumber: Warta Ekonomi


Tags

Komentar

Artikel Terkait

Terkini

X