Jaksa Agung Sanitiar Burhanuddin dinyatakan melawan hukum terkait Tragedi Semanggi

- 4 November 2020, 13:58 WIB
Aksi Kamisan Memperingati Tragedi Semanggi I.* / kontraS/

BERITABULUKUMBA.COM - Jaksa Agung Sanitiar Burhanuddin dinyatakan melawan hukum. Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta memutuskan bahwa pernyataan Jaksa Agung yang menyebut tragedi Semanggi I dan II bukan termasuk pelanggaran HAM berat dianggap 'menodai' perjuangan keluarga korban yang lebih dari 20 tahun menuntut keadilan dan berimplikasi pada penyelesaian hukum kasus tersebut.

PTUN mengabulkan gugatan dari keluarga korban Tragedi Semanggi I-II dan menyatakan “Mengabulkan gugatan para penggugat seluruhnya,” dalam amar putusan 99/G/F/2020/PTUN.JKT, Rabu 4 November 2020.

Baca Juga: Jokowi akan beri Bintang Mahaputera kepada Gatot, Ini Sikap Gatot

Pada amar putusan yang kedua menyatakan bahwa, Jaksa Agung Sanitiar Burhanuddin dinyatakan melawan hukum.

“Menyatakan Tindakan Pemerintah berupa penyampaian tergugat dalam rapat kerja anatar Komisi III DPR RI dan Jaksa Agung pada tanggal 16 Januari 2020 yang menyampaikan, ‘Peristiwa semanggi I dan Semanggi II yang sudah ada hasil rapat paripurna DPR RI yang menyatakan bahwa peristiwa tersebut bukan merupakan pelangaran HAM berat, seharusnya KOMNAS HAM tidak menindaklanjuti karena tidak ada alasan untuk dibentuknya pengadilan ad hoc berdasarkan rekomendasi DPR RI kepada Presiden untuk menerbitkan Keppres pembentukan pengadilan HAM ad hoc sesuai Pasal 43 ayat (2) UU no.26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM’ adalah perbuatan melawan Hukum oleh Badan dan / atau pejabat pemerintahan,” tulis amar putusan 99/G/F/2020/PTUN.JKT.

Baca Juga: Refly Harun Dicecar 16 Pertanyaan oleh Penyidik

Putusan ini ditandatangani oleh Hakim Ketua Andi Muh Ali Rahman dan Umar Dani sebagai Hakim Anggota.

Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) Kejaksaan Agung, Hari Setiyono mengungkapkan terdapat kesalahpahaman dalam mengutip pernyataan Jaksa Agung. Namun, Hari menegaskan, Kejaksaan Agung akan mengikuti ketentuan hukum yang berlaku untuk mengusut kasus Semanggi I dan II.

Baca Juga: Pemerintah Daerah Wajib Mempekerjakan Paling Sedikit 2 Persen Difabel

Maria Catarina Sumarsih, ibu dari Benardinus Realino Norma Irawan, mahasiswa Universitas Atma Jaya yang tewas saat Tragedi Semanggi I yang terjadi pada 11-13 November 1998, mengungkapkan gugatan TUN ini merupakan "jalan baru" untuk menuntut kelanjutan proses hukum pelanggaran HAM yang terjadi lebih dari 20 tahun silam itu.

Halaman:

Editor: Alfian Nawawi

Sumber: RRI


Tags

Komentar

Artikel Terkait

Terkini

X