Perempuan Eco Warrior Ini Salah Satu Penggerak WCD Sulsel 2020

- 22 September 2020, 12:30 WIB
WCD Sulsel 2020 tidak lepas dari semangat dan kiprah perempuan penggerak ini, Rahima Rahman* /WCD Sulsel

BERITABULUKUMBA.COM - Namanya Rahima Rahman. Lebih akrab disapa Ima, alumnus Ilmu Kelautan Unhas. Perempuan asal Kabupaten Maros, Sulsel ini salah  satu penggerak World Clean up Day (WCD) Sulsel. WCD yang dihelat 187 negara, 34 Provinsi di Indonesia, 24 Kabupaten dan Kota di Sulawesi Selatan serentak dilaksanakan pada 19 September lalu. Ratusan juta relawan sedunia sehari penuh membersihkan bumi di titik-titik yang telah ditentukan.

Mereka berupaya menyentak kesadaran kolektif terhadap pentingnya menjaga planet bumi. Lebih dari sekadar aksi bersih-bersih. Di sana juga terselip kampanye menjaga bumi dari "invasi" sampah dan limbah. Di tengah Pembatasan Sosial masa normal baru akibat Pandemi Covid-19. Memperketat protokol kesehatan anjuran World Health Organisation (WHO) dan rujukan prosedure Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bentuk implementasi saling menjaga.

Dengan dimotori 10 orang relawan, 6 diantaranya perempuan, Rahima Rahman salah satu dari 6 perempuan hebat itu. Mereka adalah Core Team (CT) WCD Sulsel.

“Perempuan punya potensi kapasitas yang sama dengan yang lainnya, dan perempuan memegang peran penting dalam gerakan menjaga lingkungan, saya memilih melibatkan diri pada gerakan kerelawanan, karena perempuan aset besar gerakan sosial,” kata Ima kepada awak media, Selasa 22 September 2020.

Ima mulai aktif terlibat gerakan yang konsen pada lingkungan sejak tahun 2016. Ia membawa nama lembaga Marine Science Diving Club Universitas Hasanuddin (MSDC UH). Pada tahun 2017 Ima terlibat aksi Indonesia Cleanup Day (ICUD 2017), serta sederet lagi lainnyaseperti  Car Free Day (CFD) dan aksi lainnya. Pahun 2018 Ima menjadi leader WCD Kota Makassar, berlanjut 2019. Ima mengaku merasa belum maksimal di tahun sebelumnya. Ia mengungkapkan bahwa ambisinya membara untuk memimpin tim, dan baru-baru ini ia pun tergabung di tim WCD provinsi. Tahun ke 3 WCD menyasar daerah pesisir dengan titik yang berbeda, punya tantangan berbeda.

Ima mengurai, bahwa menumbuhkan hingga merawat kesadaran bersama menjaga lingkungan bukan masalah yang bisa diselesaikan dengan sekali aksi. Memerlukan pendekatan yang lebih serta program kegiatan berkelanjutan.

"Relawan perlu berada di antara mereka bukan hanya sehari, siapa kita yang baru datang sebagai orang yang tidak dikenal. Penting membangun hubungan emosional, mereduksi stigma perbedaan dan sekat berjarak sehingga kita dan masyarakat tidak ada rasa canggung. Pemuda berkesempatan belajar lebih banyak dari masyarakat dan saling mengedukasi, sederhananya ada simbiosis mutualisme di sana,” tuturnya.

Ima berpandangan, mengikuti kegiatan sosial secara aktif tidak hanya membawa manfaat terhadap soft skill dan relasi personal. Banyak teman dekat yang tidak segan menawarkan diri untuk ikut terlibat. Tidak heran, ia kerap mengajak teman-temannya terlibat. Tidak hanya membawa identitas diri tapi beberapa mengikutkan lembaga yang tentu mengajak lebih banyak pejabat teras lembaga.

"Ini juga menambah relasi secara kelembagaan yang berpeluang aksi kolaborasi dengan kegiatan berbeda,” terangnya.

Ima juga menuturkan bahwa berangkat dari niat yang baik bukan jaminan perjalanan tetap lancar. Kerap diperhadapkan terpaan masalah. Masalah ada dua sisi, internal dan eksternal tim. Perempuan "eco warrior" iini mengungkapkan, di lokasi WCD tahun ini mereka sempat ditolak untuk melakukan aksi bersih-bersih, dengan dalih sampai kapanpun sampah tidak akan habis. Namun bagi Ima, berhadapan dengan kontra yang timbul harus memerlukan kesabaran membangun kesepahaman.

Halaman:

Editor: Alfian Nawawi


Tags

Komentar

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X